Dinamika Kelompok dalam Tinjauan Teori Keterkejutan Budaya William Ogburn
oleh Andra Eka Putra, M.Si (Widyaiswara BKPSDM Kabupaten Tanah Laut)

By BKPSDM 09 Nov 2018, 14:14:02 WIB Bidang Diklat Pengembangan dan Formasi Aparatur
Dinamika Kelompok dalam Tinjauan Teori Keterkejutan Budaya William Ogburn

Sebuah pelatihan dan/atau diklat umumnya dibuka dengan perkenalan diri sendiri dengan orang lain. Dalam Diklat Kepemimpinan maupun Pelatihan Dasar CPNS, “perkenalan” ini lantas disistematiskan dalam materi yang disebut dengan Dinamika Kelompok (3 JP di Diklatpim dan 6 JP di Latsar). Dalam Perkalan 20/2015 dan Perkalan 25/2017 yang menjadi pedoman penyelenggaraan bagi Diklatpim dan Latsar, Dinamika Kelompok dideskripsikan sebagai cara memfasilitasi peserta membangun kelompok yang dinamis dalam proses pembelajaran dengan indikator keberhasilan (1) identifikasi nilai diri, (2) kenal orang lain, (3) kelompok yang dinamis dan (4) terbentuk komitmen bersama.

Sampai disini saya ingin mengatakan bahwa ada dalil-dali keajaiban, sebab dengan 3-6 JP atau dalam sekitar 135-270 menit seolah-olah 4 indikator muskil diatas dapat dicapai. Sebagai contoh dalam indikator kemampuan mengenal orang lain misalnya, studi terbaru Jeffrey A. Hall berjudul How many hours does it take to make a friend (2018) menyebut bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengenal orang lain dari yang awalnya tidak kenal sama sekali adalah sekitar 50 jam atau 3.000 menit. Ini baru dalam tahap mengenal, bisa dibayangkan kiranya untuk membuat sebuah komitmen bersama barang tentu membutuhkan lapisan waktu yang jauh lebih banyak.

Dalil ilmiah Jeffrey Hall diatas kontan menguap jika dibenturkan dengan dalil formalitas menggugurkan kewajiban jam pelajaran dalam Diklatpim atau Latsar, padahal siasat dapat dilakukan melalui alokasi 3-6 JP dinamika kelompok ke materi lain.

Dari sisi metode, meski tidak eksplisit ditulis dalam Perkalan 20/2015 dan Perkalan 25/2017, dinamika kelompok umumnya dilakukan melalui permaianan-permainan yang dikemas secara jenaka (siapa dia? Ikuti yang saya katakan, mengulang petunjuk dll) yang ditambah dengan pemberian pengetahuan 4 tipe keribadian manusia (plegmatis, melankolis, sanguinis, koleris) yang diakhiri dengan pembuatan komitmen kelas (disiplin, kerjasama, dll). Secara logika, dapat saya katakan nilai-nilai yang dibuat dalam komitmen kelas bukan dampak tebal dari hasil permainan-permainan jenaka, artinya tanpa melakukan permainan-permainan jenaka itu pun komitmen kelas dapat dibuat. Sisi positif dari permaian jenaka dianggap dapat memecah kebekuan antar peserta sehingga menciptakan iklim kelas yang cair. Padahal tidak semua es dari pribadi peserta mampu dihancurkan lewat permainan jenaka ini bahkan tidak menutup kemungkinan es tersebut justru malah akan semakin mengeras. Kenapa demikian?

William Fielding Ogburn memperkenalkan sebuah konsep yang lazim disebut sebagai “keterkejutan budaya.” Dikutip dari Selvie M. Tumengkol (2012), secara sederhana Ogburn menyatakan meskipun unsur-unsur masyarakat saling berhubungan satu sama lain, beberapa unsurnya bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsur lainnya tidak secepat itu. Sehingga tertinggal dibelakang. Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan sosial dan budaya antara unsur-unsur yang berubah sangat cepat dan unsur yang berubah lambat. Kesenjangan ini menyebabkan adanya kejutan sosial dan budaya pada masyarakat.

Dengan membayangkan posisi dalam kelas yang sedang malakukan dinamika kelompok, kalimat Ogburn diatas saya sesuaikan menjadi “meskipun peserta diklat saling berhubungan satu sama lain dalam permainan jenaka, beberapa peserta bisa saja larut dalam kejenakaaan sementara peserta lainnya mematung, ketidak mampuan peserta untuk menjadi jenaka menyebabkan peserta tertinggal dibelakang. Kesenjangan ini menyebabkan kejutan budaya pada kelas.”

Dampak psikologis yang ditimbulkan kejutan budaya ini bagi peserta yang tidak jenaka adalah si peserta teralienasi dari situsi sosial terkini kelas. Tidak menutup kemungkinan alienasi diawal ini justru akan mengganggu proses penerimaan belajar peserta kedepan selama mengikuti diklat yang justru berbanding terbalik dengan tujuan dari dinamika kelompok.

Pada dasarnya, kenal berkenalan dalam interaksi sosial adalah sebuah proses natural dan bakat alamiah manusia sehingga tidak memerlukan proses sistematisasi. Peserta diklat akan secara alamiah saling mengenal peserta lainnya yang pada ujungnya akan saling bantu-membantu untuk tercapainya tujuan pembelajaran.

--------------------

Andra Eka Putra, M.Si / 0821-5371-6406
Widyaiswara BKPSDM Kab. Tanah Laut




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment