Rancangan Implementasi Model Evaluasi Empat Level Kirkpatrick pada Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan
Ditulis oleh Andra Eka Putra, S.IP, M.Si

By BKPSDM 31 Okt 2017, 14:18:56 WIB Bidang Diklat Pengembangan dan Formasi Aparatur
Rancangan Implementasi Model Evaluasi Empat Level Kirkpatrick pada Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan

Frasa Pasal 3 ayat (1) PP 18/2016 menyebutkan bahwa pembentukan dan susunan Perangkat Daerah ditetapkan dengan Perda. Menindaklanjuti hal ini, Kabupaten Tanah Laut kemudian melalui Perda 6/2016 membentuk 2 Sekretariat, 1 inspektorat, 20 Dinas, 5 Badan dan 11 Kecamatan yang ketentuan tugas fungsinya ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

Untuk Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia tugas fungsinya lantas diatur dalam Perbup 86/2016 dimana dalam Pasal 13 ayat (2) disebutkan bahwa salah satu tugas fungsi BKPSDM adalah evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pengembangan kompetensi.

Dalam Pasal 210 ayat (2) PP 11/2017 disebutkan bahwa pengembangan kompetensi dilaksanakan dalam bentuk (a) pendidikan melalui pemberian tugas belajar dan (b) pelatihan baik dalam bentuk klasikal (diklat, seminar, kursus) maupun non klasikal (e-learning, magang).

Tulisan ini akan berfokus pada evaluasi pengembangan kompetensi pelatihan klasikal (diklat) yang dalam Perbup 54/2017 dilaksanakan oleh Sub Bidang Diklat Aparatur.

Model Evaluasi Empat Level Kirkpatrick

Donald Kirkpatrick adalah seorang Profesor Emiritus di Universitas Winconsin-Madison Amerika Serikat dan mantan Presiden Organisasi Internasional Non Profit ASTD (kini ATD) yang bergerak dalam bidang pengembangan aparatur pelatihan. Menurut Kirkpatrick (1996) evaluasi dapat dilakukan melalui empat level yakni Reaction, Learning, Behavior dan Result.

 

4-level.pngLevel 1: Reaksi

Evaluasi atas reaksi peserta artinya mengukur tingkat kepuasan peserta terhadap kegiatan diklat. Menurut Smidt dkk (dalam Ramadhon, 2016:45) Evalusi di level 1 tidak mengukur apa yang peserta telah pelajari, namun mengukur minat, motivasi dan tingkat perhatian dari peserta pelatihan. Donald Kirkpatrick dan James Kirkpatrick (dalam Ramadhon, 2016:45-46) menyatakan kemudian bahwa alasan mengukur reaksi diantaranya yakni untuk memberikan informasi kuantitatif kepada para pembuat keputusan terkait pelaksanaan pelatihan dan memberikan informasi kuantitatif kepada pengajar yang dapat digunakan sebagai dasar standar pengajaran untuk progam yang akan datang.

          Sumber: Kirkpatrick, 1996

Evalusi Level 1 dilakukan pada saat kegiatan diklat telah berakhir (setelah penutupan diklat) dengan menggunakan formulir yang berisi instrumen diantaranya ketersediaan media belajar dan modul, fasilitas kelas yang representatif, konsumsi yang bervariasi, sampai kepada penguasaan materi dan ragam metode pembelajaran oleh pengajar.

Level 2 : Pembelajaran

Menurut Kennedy (dalam Ramadhon, 2016:46), tujuan evaluasi belajar di level 2 adalah mengukur seberapa baik peserta didik dalam mempelajari pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan dalam kegiatan pengajaran.

Evaluasi Level 2 dapat dilakukan dalam bentuk tertulis (pre-test dan post-test).

Level 3 : Perilaku

Menurut Herman Steensma dan Karin Groeneveld (dalam Ramadhon: 2016:47) Evaluasi Level 3 dilakukan untuk mengindikasikan sejauh mana materi dalam pelatihan diaplikasikan pada pekerjaan dan tempat kerja peserta. Donald Kirkpatrick dan James Kirkpatrick (dalam Ramadhon: 2016:47) menyatakan kemudian untuk dapat mengaplikasikan perubahan perilaku tersebut terdapat empat kondisi yang diperlukan yaitu seseorang harus mempunyai keinginan untuk berubah; seseorang harus tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukan hal tersebut; seseorang harus bekerja dalam lingkungan kerja yang tepat; serta seseorang harus mendapatkan penghargaan karena dia berubah. Lebih lanjut Syafril Ramadhon (2016:47) menyebutkan bahwa program pelatihan dapat memberikan kondisi pertama dan kedua, tetapi untuk kondisi ketiga berkaitan langsung dengan atasan dan lingkungan peserta. Begitu pula untuk kondisi keempat, penghargaan atas perubahan perilaku peserta juga sangat tergantung dengan kerepresentatifan lingkungan kerjanya.

Evaluasi Level 3 dilakukan dengan menggunakan kuisioner atau wawancara berjangka (misal 2-6 bulan) setelah pelatihan pada peserta pelatihan, atasan langsung dan bawahan/rekan peserta. Menurut Syafril Ramadhon (2016:48), jika memungkinkan lakukan evaluasi pada semua peserta, jika tidak lakukan metode sampling.

Level 4 : Hasil

M. Rafiq (dalam Ramadhon: 2016:48) menyatakan bahwa evaluasi di Level 4 bertujuan apakah program pelatihan bermanfaat dalam mencapai tujuan organisasi. Evie Sopacua dan Didik Budijanto (2007:375) menekankan bahwa fakta yang ada tidak perlu disembunyikan karena banyak faktor selain faktor pelatihan dapat menyembabkan hasil akhir yang ditentukan tercapai atau tidak.

Evaluasi Level 4 dilakukan dengan menggunakan kuisioner atau wawancara pada waktu yang dianggap sesuai (misal akhir tahun anggaran) pada peserta pelatihan dan pimpinan organisasi.

Rancangan Implementasi Evaluasi Empat Level Kirkpatrick

Level 1 : Reaksi

Untuk Level Reaksi digunakan formulir sebagai berikut:

 

           

 

Dua gambar diatas merupakan contoh instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat reaksi peserta atas suatu kegiatan diklat baik dari sisi reaksi ke penyelenggara (Gambar 1) maupun reaksi ke tenaga pengajar (Gambar 2). Hasil reaksi peserta kemudian dikelompokkan dalam kategori kurang (untuk nilai 60-69), cukup (untuk 70-75) dan memuaskan (untuk 76-90).

Level 2 : Pembelajaran

Penyelenggaraan Diklat di BKPSDM Kabupaten Tanah Laut dilakukan melalui pola kemitraan dengan BPSDM Prov. Kalimantan Selatan dimana untuk pembuatan soal pre-test dan post-test diklatdilakukan oleh BPSDM Prov. Kalsel dan BKPSDM Kab. Tanah Laut diberikan nilai peserta dari pre-test dan post-test dimaksud. Oleh sebab itu untuk Level 2, BKPSDM Kab. Tanah Laut tidak menggunakan format soal mandiri tapi lebih bersifat sebagai “pemakai” nilai peserta yang telah disediakan.

Level 3 : Perilaku

Untuk Level Perilaku digunakan formulir sebagai berikut:

Level-Perilaku 2.png

Level-3.b 2.png

Level-3.c 2.png

Gambar 3, 4 dan 5 merupakan instrument pengukuran evaluasi pada level 3 untuk melihat indikasi penerapan materi pelatihan dalam pekerjaan dan tingkat perubahan perilaku peserta. Gambar 3 diisi oleh peserta pelatihan sendiri, kemudian untuk Gambar 4 oleh atasan peserta dan Gambar 5 oleh bawahan ataupun rekan peserta dilingkungan kerja.

Level 4 : Hasil

Untuk Level Hasil digunakan formulir sebagai berikut:

Level-4 2.pngLevel-4-b 2.png

Gambar 6 dan 7 diatas merupakan instrument untuk mengukur evaluasi level 4 dimaan Gambar 6 diisi oleh peserta pelatihan dan Gambar 7 diisi oleh pimpinan SKPD tempat peserta bekerja.

Rumus kunci untuk pemaparan diatas adalah “sekuen” atau bertahap, artinya Level 2 boleh dilakukan apabila Level 1 telah dilakukan, Level 3 dilakukan setelah Level 2 dilakukan, begitu seterusnya. Jadi hasil Level 2 dikonfirmasi oleh Level 1, hasil Level 3 dikonfirmasi oleh Level 2 dan seterusnya.

Penerapan Model Evaluasi Empat Level Kirkpatrick pada penyelenggaraan Diklat di BKPSDM Kab. Tanah Laut diharapkan agar dapat memberikan gambaran utuh bagi BKPSDM tentang sejauh mana tingkat keberhasilan suatu Diklat sebagai bahan kritik dan masukan untuk penyelenggaraan Diklat lainnya dimasa yang akan datang.(diklat/andraekaputra)

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah
  2. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen PNS
  3. Peraturan Daerah Kabupaten Tanah Laut Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah
  4. Peraturan Bupati Tanah Laut Nomor 86 Tahun 2016 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi serta Tata Kerja Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Tanah Laut
  5. Peraturan Bupati Tanah Laut Nomor 54 Tahun 2017 tentang Uraian Tugas Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Tanah Laut
  6. Donald Kirkpatrick (1996), Revisiting Kirkpatrick’s four-level-model. Training & Development.
  7. Syafril Ramadhon (2016), Penerapan Model Empat Level Kirkpatrick dalam Evaluasi Program Pendidikan dan Pelatihan Aparatur di Pusdiklat Migas.
  8. Evie Sopacua dan Didik Budijanto (2007), Evaluasi 4 Tahap dari Kirkpatrick sebagai Alat dalam Evaluasi Pasca Pelatihan.



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 4 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment