Mengenal Konsep Pendekatan Andragogi dalam Pembelajaran Diklat
Ditulis oleh Andra Eka Putra ,S.IP, M.Si

By BKPSDM 30 Okt 2017, 14:06:40 WIB Bidang Diklat Pengembangan dan Formasi Aparatur
Mengenal Konsep Pendekatan Andragogi dalam Pembelajaran Diklat

“L’objectif principal de l’education est de creer homes qui sont capable de faire de nouvelles choses, sans se contenter de repeater ce que les autres generations ont fait: des homes qui sont creatifs, inventeurs et explorateurs” | Jean Piaget (1896-1980).

Telah umum diketahui bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam Diklat baik Pelatihan Dasar (Perkalan 17/2017 dan 18/2017), Kepemimpinan (Perkalan 18/2015, 19/2015 dan 20/2015), Teknis (Perkalan 14/2011) maupun Fungsional (Perkalan 15/2011) adalah pendekatan Andragogi. Tulisan ini akan berfokus pada apa dan bagaimana pendekatan andragogi tersebut diterapkan dalam pembelajaran diklat.

**

Psikolog Swiss Jean Piaget yang karyanya banyak dikutip dalam ranah psikologi kognitif menyampaikan bahwa perkembangan kognitif manusia terjadi dalam empat tahap yakni Sensorimotor pada usia 0-2 Tahun, Praoperasi di usia 2-7 tahun, Operasi Konkret pada 8-11 Tahun dan Operasi Formal pada usia 11 Tahun keatas dimana tahap operasi formal diartikan sebagai anak usia 11 tahun keatas sudah mampu berpikir logis dengan pola kemungkinan untuk menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa.

Dalil operasi formal Piaget inilah yang kemudian diadopsi oleh Profesor dari Boston University, USA: Malcolm Knowles pada ranah pendidikan untuk menjadi basis teori Andragogi melalui karya “informal Adult Education” pada tahun 1950.

Secara etimologi, andragogi berasal dari bahasa latin “andros” yang berarti orang dewasa dan “agagos” yang berarti membimbing. Secara sederhana dapat dikatakan andragogi adalah seni pengetahuan untuk membimbing orang dewasa belajar.

Jika dilacak dari sisi kesejarahannya, kajian awal andragogi menurut Mustofa Kamil (tanpa tahun) diperkenalkan oleh diantaranya Alexander Kapp (1883), Adam Smith (1919), Eugar Rosentrock (1921), Edward Thorndike (1928), Alan Rogers (1938) dan Harry Overstreet (1949) Tindih silang menyilang argumentasi para pakar inilah yang kemudian oleh Malcom Knowles lebih difokuskan tak hanya dari segi konsep teori tapi sampai pada tahapan implementasi Andragogi itu sendiri.

Lebih lanjut kemudian, Malcom Knowles pada tahun 1970 (dalam Sunhaji, 2013:5) mengembangkan konsep andragogi atas empat asumsi pokok yakni:

  1. Seseorang tumbuh dan matang dengan konsep diri yang bergerak dari ketergantungan total menuju pengarahan diri sendiri. Atau dapat dikatakan bahwa anak-anak konsep dirinya masih tergantung, sedang pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri, karena konsep dirinya inilah orang dewasa membutuhkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang dapat mengarahkan diri sendiri, apabila dia menghadapi situasi dimana dia tidak memungkinkan dirinya menjadi self directing, maka akan timbul reaksi tidak senang atau menolak.
  2. Karena sudah matang dengan sejumlah besar pengalaman, maka dirinya menjadi sumber belajar yang kaya sekaligus pada waktu yang sama akan memberikan dia dasar untuk belajar sesuatu yang baru. Oleh karena itu dalam andragogi harus pembelajaran harus mengurangi metode ceramah dan menggantinya dengan metode yang lebih banyak berbuat. Hal ini selaras dengan prinsip pembelajaran umum yang meyakini bahwa belajar dengan berbuat lebih efektif jika dibandingkan dengan belajar yang hanya melihat dan mendengarkan.
  3. Kesiapaan belajar mereka bukan semata karena paksaan akedemik, tapi karena kebutuhan hidup dan untuk melaksanakan tugas peran sosialnya. Oleh karena itu, orang dewasa belajar karena membutuhkan tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi perannya apakah sebagai pekerja, orang tua, pemimpin suatu organisasi dan lain-lain.
  4. Orang dewasa memiliki kecendrungan orientasi belajar pada pemecahan masalah kehidupan (problem centered orientation).

 

 

Dari penjabaran asumsi andragogi oleh Knowles diatas, terlihat bahwa asumsi pertama sangat dekat dengan teori hierarki kebutuhan manusia oleh Abraham Maslow bahkan menjadi pucuk tertinggi dalam teori tersebut.maslow.jpg Maslow melukiskan kebutuhan ini sebagai hasrat untuk menjadi diri sepenuh kemampuan sendiri (Goble, 1987). Sementara asumsi kedua jalin menjalin dengan apa yang dikatakan Confucius “aku dengar aku lupa, aku lihat aku ingat, aku kerjakan aku mengerti.”

Dari bangunan empat asumsi pokok andragogi diatas, maka tentunya pembelajaran pada diklat yang menggunakan pendekatan andragogi memerlukan metode-metode pembelajaran yang dapat membiakkan akar tunjang asumsi guna pencapaian tujuan pembelajaran.

Penggunaan metode konvensional verbalistik satu arah seperti ceramah hendaknya dapat diminimalisir dan diganti dengan metode-metode partisifatif yang lebih menitikberatkan keaktifan peserta diklat seperti debat, role play, studi kasus, pembahasan artikel dan lain-lain. Namun penting digarisbawahi tentu saja bahwa pemilih-gunaan metode pembelajaran tetap harus disesuaikan dengan kompetensi tujuan pembelajaran yang umumnya dapat diidentifikasi dengan kata kerja operasional Taksonomi Kognitif Benjamin Bloom seperti “menghafal” untuk C1/Pengetahuan, “menerangkan” untuk C2/Pemahaman sampai kepada “menciptakan” untuk C6/Kreasi.(diklat/andraekaputra)

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mustafa Kamil, Andragogi (tanpa tahun).
  2. Sunhaji, Konsep Pendidikan Orang Dewasa (2013). Jurnal Kependidikan IAIN Purwokerto Vol. 1 No. 1 Tahun 2013.
  3. Frank Goble, Mazhab Ketiga; Psikologi Humanistik Abraham Maslow (1987), Kanisius, Yogyakarta

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 14 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment