Sketsa Kecil Kepemimpinan Umar bin Khattab
oleh Andra Eka Putra, M.Si (Widyaiswara BKPSDM Kabupaten Tanah Laut)

By BKPSDM 28 Sep 2018, 14:08:35 WIB Bidang Diklat Pengembangan dan Formasi Aparatur
Sketsa Kecil Kepemimpinan Umar bin Khattab

Sketsa Kecil Kepemimpinan Umar bin Khattab

“Hai orang banyak semuanya, Aku diangkat mengepalai kalian, dan Aku bukanlah yang terbaik diantara kalian. Yang terlemah diantara kalian aku anggap yang terkuat sampai aku mengambil dan memulangkan haknya. Yang terkuat diantara kalian aku anggap yang terlemah sampai aku mengambil hak si lemah dari tangannya.”

-Umar bin Khattab.

Ketidaksempurnaan manusia adalah matematika, sebab itu mengkaji kelebihan-kelebihan seseorang asasinya sama dengan menstudi kekurangan-kekurangan seorang. Seorang pemimpinan niscaya akan dilebeli sejarah dengan predikat baik dan buruk, tak terlampau jadi soal, sebab dari kebaikannya kita belajar meneladani, dari keburukannya kita belajar memungkiri. Ecce Homo! Tarkib al-wujud wa al-‘adam.

Seperti halnya Soekarno, Seoharto sampai Joko Widodo serta para pemimpin ditingkat lokal lainnya, deretan manggala itu sudah sewajarnya berkekurang-kelebihan. Sebuah ketidakwajaran bila kita dengan begitu “keras” nya membandingkan laku kepemimpinan manggala tersebut tanpa melihat konteks zaman yang mengiringnya. Tak terkecuali Umar bin Khattab.

Kidal, mahir dalam baca-tulis, gulat, dan menunggang kuda, Umar lantas tumbuh menjadi pribadi yang keras. Diceritakan Syibli Nu’mani (1994:36): dengan pedang ditangan Umar mengetuk pintu rumah Arqam di kaki bukit Shafa untuk bertemu Nabi Muhammad, Amir Hamzah berkata: “biarkan ia masuk, jika ia datang dengan maksud bersahabat, hal itu adalah baik, tetapi jika tidak, kepalanya harus dipenggal dengan pedangnya sendiri.” Nabi bertanya: Umar, maksud apa yang menyebabkan kunjunganmu kepada kami?” Umar menjawab: “Aku datang untuk memeluk Islam.” Mengenai Islam-nya Umar ini, diceritakan menarik kemudian oleh Husain Haekal (2002:12) ketika seseorang bertanya pada gembala, “Kau tahu si Kidal itu sudah masuk Islam? yang beradu gulat di Pasar Ukaz? Oh, mungkin ia membawa kebaikan buat mereka, mungkin juga bencana.”

Prediksi gembala terbukti tak meleset sepenuhnya sebab Umar membawa keelokan, tanpa menihilkan peran Khulafaur Rasyidin lainnya, periode Umar kerap disebut sebagai Futuhat al-Islamiyah (perluasan wilayah Islam) terbesar, bahkan tak berhenti sampai disitu, Umar juga melakukan terobosan-terobosan dalam bidang sistem administrasi dan tata pemerintahan lengkap dengan jawatan pengadilannya, usaha pelesapan perbudakan, dan tentu ijtihad-ijtihadnya dalam mengaplikasikan syariat islam. Kesemua laku Umar ini tentu dimungkinkan –salah satunya- karena kualitas kepemimpinan dari Umar itu sendiri.

Beberapa ikhwal yang patut diteladani dari kepemimpinan umar diantaranya:

Pemilihan Bijaksana untuk Abdi-Abdi Negara

Menurut Syibli Nu’mani (1994:443): Qadhi Syuraih, Ka’ab bin Sur, Salman bin Rabi’a dan Abdullah bin Mas’ud yang memiliki bakat-bakat yudisial diangkat sebagai Hakim. Sementara pejuang-pejuang besar seperti Amr Ma’di Karab dan Thalaiha bin Khalid tidak diberi jabatan komando sebab tidak punya kemampuan memimpin tentara. Orang-orang yang dipillih untuk menjalankan roda pemerintahan merupakan orang-orang yang tepat untuk memangku jabatan itu. kebijaksanaan politik inilah yang menjadi sebab utama keberhasilan pemerintahan Umar.

Dalam situasi kontemporer, kebijaksanaan politik Umar diatas lantas dikenal dengan prinsip the Right Man on the Right Place (belakangan mulai ditambah on the Right Time), dalam konteks ASN di Indonesia, adopsi prinsip ini sejatinya telah secara lugas diatur dalam Pasal 51 UU 5/2014 yang berbunyi “Manajemen ASN dilaksanakan berdasarkan sistem Merit” atau perbandingan antara kualifikasi, kompetensi dan kinerja yang dibutuhkan oleh jabatan dengan kualifikasi, kompetensi dan kinerja yang dimiliki oleh calon.

Jika Umar mempunyai kemampuan untuk memilih orang yang tepat, maka yang kita butuhkan adalah juga kemauan untuk memilih orang yang tepat. Disisi lain, bagi persona terpilih hendaknya juga selalu hirau dengan ucapan Nabi Muhammad pada Jundub bin Junadah atau lebih dikenal sebagai Abu Dzar Al-Ghifari: “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut” (H.R. Muslim No. 1825).

Inventaris Milik Para Pejabat

Pada masa pemerintahan Umar, diceritakan oleh Syibli Nu’mani (1994:282-283): kalau seorang diangkat dalam suatu jabatan, daftar inventaris yang lengkap mengenai semua miliknya disiapkan dan disimpan serta dipelihara sebagai catatan. Jika sesuatu peningkatan yang tidak wajar dalam posisi keuangannya diketahui, maka ia dipanggil untuk menjelaskannya.

Konsep inventaris milik oleh Umar ini memiliki kemiripan dengan konsep Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN) yang diatur dalam Peraturan KPK 7/2016.

Sarana untuk Mengetahui Keluhan Rakyat

Syibli Nu’mani (1994:456) menceritakan: Umar selalu mengusahakan agar tidak muncul keluhan atau hal-hal yang menyedihkan yang tidak sampai kepadanya. Menunggu di mesjid setiap kali habis sembahyang, menyusuri jalan-jalan dimalam hari, bertanya pada orang yang lewat dan menanyai suruhan-suruhan dari propinsi-propinsi adalah kebiasaan umar untuk mengetahui keluhan.

Dapat kita tarik kemudian bahwa Umar menerapkan gaya pengaduang langsung dan tidak langsung. Mana yang lebih efektif tentu bukan untuk diperdebatkan sebab dua gaya ini sejatinya saling melengkapi, yang pasti blusukan nya Umar dan gaya pengaduan tidak langsung (kini media sosial) sudah mulai banyak dipraktekkan, yang masih sedikit kiranya –bukan tidak ada- pemimpin yang membuka dan menerima aduan langsung di tempat kerja. Sebagai catatan, tradisi pengaduan ditempat kerja dapat dilakukan dengan memperhatikan situasi domestik dan kondisi geografis suatu daerah.

Sifat-Sifat Khas Pemerintahan Umar

Dalam catatan Syibli Nu’mani (1994:433), gambaran yang paling menonjol dari pemerintahan Umar adalah bahwa yang kaya dan miskin, yang tinggi dan rendah sederajat, hubungan darah dan orang-orang asing, semuanya oleh administrasi negara ditempatkan pada tingkat yang sama. Pernah suatu ketika, Abu Sufyan dan pemuka Quraisy lainnya datang dan menemui Umar sementara Suhail, Bilal, ‘Ammar dan beberapa bekas budak juga hadir untuk diterima oleh Umar. Tetapi Suhail dan kawan-kawan dipanggil masuk lebih dahulu. Abu Sufyan berkata: “Ini adalah suatu perputaran roda yang aneh bahwa budak-budak dipanggil kedalam istana sedangkan kita menunggu diluar” (Syibli Nu’mani, 1994:434-435).

Tafsir radikal saya atas apa yang dilakukan Umar diatas sejatinya merupakan pembumian atas konsep yang disebut John Rawls –Filsuf Politik Amerika- sebagai selubung ketidaktahuan (veil of ignorance) yakni prinsip yang secara sederhana memandang perlunya “mengabaikan” identitas individu untuk mendorong terciptanya keadilan di masyarakat.

Ikhwal kesetaraan derajat ini dapat dilakukan sebab Umar memberi contoh langsung atas dirinya sendiri, Syibli Nu’mani (1994:437) menceritakan, saat Umar berperkara dengan Ubayy bin Ka’ab di Pengadilan Zaid bin Tsabit, Zaid mengosongkan kursinya untuk menghormati khalifah dan Umar berkata “itu adalah ketidak-adilan pertama dalam perkara” sambil duduk disamping lawannya berperkara.

**

Begitulah kiranya sketsa kecil dari sedemikian banyak hal-ikhwal kepemimpinan Umar, oleh sebab itu fase kepemimpinan Umar adalah harta karun keteladanan yang harus terus-menerus digali.

Terakhir, saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat yang menjadi kebiasaaan Umar ketika mengakhiri pidato, “Ya Allah, jangan biarkan aku terjatuh kedalam kesalahan, kelalaian dan bertindak tanpa kesadaran” (Syibli Nu’mani, 1994:522).

----------

Andra Eka Putra, M.Si / 0821-5371-6406
Widyaiswara BKPSDM Kab. Tanah Laut

 

 

 

 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Write a comment

Ada 2 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment