Simulakra Widyaiswara: Hilangnya Makna Ketubuhan
oleh Andra Eka Putra, M.Si (Widyaiswara BKPSDM Kabupaten Tanah Laut)

By BKPSDM 14 Jan 2019, 08:51:43 WIB Bidang Mutasi, Data dan Informasi
Simulakra Widyaiswara: Hilangnya Makna Ketubuhan

Merujuk pada ketuntuan Pasal 212 ayat (3) PP 11/2017 yang mendalilkan bahwa pengembangan kompetensi dalam bentuk pelatihan non-klasikal salah satunya dapat dilakukan melalui e-learning dimana teknis penyelenggaraan nya di pedomankan pada Peraturan LAN 8/2018 yang lantas mendefinisikan e-learning sebagai pengembangan kompetensi PNS yang dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dengan mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mencapai tujuan pembelajaran dan peningkatan kinerja.

 

Pengajar dalam e-learning disebut tutor yang salah satunya adalah Widyaiswara dengan tugas sebagaimana diatur Pasal 11 Peraturan LAN 8/2018 meliputi:

  1. Menyusun rencana pembelajaran
  2. Menyusun dan/atau mengembangkan bahan ajar dan media pembelajaran
  3. Menyebarluaskan dan/atau mengunggah bahan ajar dan media pembelajaran
  4. Memberikan tutorial terkait materi pembelajaran
  5. Membimbing peserta pelatihan dibidang akedemik

 

Dari sudut pandang efisiensi anggaran, barang tentu penyelenggaraan e-learning merupakan sebuah terobosan radikal. Namun demikian, penting juga kiranya untuk menggunakan helicopter view guna melihat sudut pandang lain yang dalam artikel ini berupa gagasan Simulakra dariJean Baudrillard.

 

Jean Baudrillard (1929-2007) sendiri merupakan sosiolog Perancis dan Doktor Filsafat (Ph.D) lulusan Universitas Sorbonne di Paris. Beberapa buku hasil pemikiran Baudrillard yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia diantaranya Berahi (Bentang Budaya, 2000), Galaksi Simulacra (LKiS, 2001), Ekstasi Komunikasi (Kreasi Wacana, 2006) Lupakan Postmodernisme (Kreasi Wacana, 2006), dan Masyarakat Konsumsi (Kreasi Wacana, 2011).

Dalam salah satu bukunya (Simulations, 1983) yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Baudrillard sebagaimana dikutip Nur Indah Sari (2017:27-29) membagi tiga tahapan perubahan penampakan (appearance) wajah dunia yakni modernitas awal/counterfeil, modernitas/produksi dan postmodernitas/simulasi. Modernitas awal/ counterfeil ditandai oleh produksi bebas tanda dimana fashion, model menggantikan sistem kasta yang bersifat represif dan hegemonik sehingga memungkinan seseorang bisa saja bergaya hidup seperti seorang raja. Modernitas/produksi ditandai dengan otomatisasi produksi yang menyuguhkan pilihan-pilihan gaya hidup sehingga teater dan patung malaikat dapat digantikan sinema dan fotografi. Postmodernitas/simulasi ditandai dengan kontrol kode-kode yakni dominasi realitas buatan (hiperealitas) sehingga manusia tidak saja diberikan kebebasan memilih gaya hidup namun juga dapat menciptakan tiruannya. Oleh Zen RS (2016:54) Ruang sosial tempat berlangsungnya simulasi inilah yang disebut sebagai “simulakra.”

 

Jika memperhatikan tahapan pelaksanaan e-learning (Pasal 14 Peraturan LAN 8/2018) yang terbagi atas (1) Pengunggahan bahan pembelajaran kedalam laman resmi lembaga penyelenggara pelatihan serta (2) Pelaksanaan layanan pembelajaran dalam jaringan, maka pelaksanaan pembelajaran dalam jaringan dapat disebut sebagai simulakra. Sebab, Widyaiswara yang “tampil” dihadapan peserta hanyalah “representasi” dari Widyaiswara dalam sebuah ruang sosial.

 

Menarik misalnya merenungkan yang ditulis Hubert Dreyfus (2001:49), “I See something like you… but do not see you. I hear something like you, but I do not hear you.” Kondisi yang tidak jauh berbeda terjadi juga kiranya jika membayangkan situasi pembelajaran dalam e-learning. Lantas apa yang hilang sebanarnya dalam e-learning?

 

Dreyfus dalam Riliana Oktavianti (2013:59-61) menyebutkan bahwa yang hilang dalam kehadiran jarak jauh adalah cengkeraman optimal atas dunia, konteks dan suasana hati serta rasa percaya.

 

Dalam e-learning, Widyaiswara kehilangan kondisi optimum untuk berinteraksi dengan kelas. Tidak ada kontak mata, aroma maupun gerak tubuh peserta yang dapat membangun suasana hati serta hilangnya perasaan berada dalam dunia yang sama dengan peserta. Dalam e-learning, Widyaiswara dan peserta juga akan mengalami defisit rasa percaya, sebab rasa saling percaya hanya dapat dibangun dengan kehadiran yang menubuh. Tubuh membuat manusia menjadi sadar akan dunia, manusia menyadari bahwa ia berhadapan dengan resiko. Oleh sebab itu, manusia lalu membangun rasa percaya ketika berhadapan dengan orang lain yakni keyakinan bahwa orang lain dapat menyakitinya namun nyatanya tidak dilakukan.

 

Bagaimanapun, pada akhirnya kebijakan penyelenggaraan pembelajaran dengan metode e-learning patut didukung dengan salah satu caranya melalui upaya pemberian kritik atas beberapa potensi-potensi kekurangan dalam e-learning. Dengan demikian setidaknya Widyaiswara menyadarai bahwa e-learning menghilangkan “yang etis” dari sebuah makna tubuh.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment